Selasa, 24 September 2013

 Presiden Resmikan Tol Bali Mandara
 Selasa, 24 September 2013
Tempo.com
NUSA DUA -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan jalan tol Nusa Dua-Ngurah Rai Benoa, Bali, kemarin. Ia memberi nama jalan bebas hambatan itu sebagai Jalan Tol Bali Mandara. "Bali Mandara, Bali yang agung. Bali yang maju, aman, damai, dan sejahtera," kata Yudhoyono ketika meresmikan jalan tol itu.


Jalan Tol Bali Mandara, menurut Yudhoyono, akan menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan. Selain itu, kata dia, jalan tol Bali Mandara akan menjadi ikon wisata baru di Bali. "Jalan tol ini juga menjadi sarana pendukung KTT APEC yang akan diselenggarakan pada Oktober mendatang," kata Presiden.


Presiden ditemani Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Gubernur Bali menjadi pengguna pertama jalan tol tersebut. Mereka membayar tol dengan menggunakan E-Toll Card. Jalan tol sepanjang 12,5 kilometer ini dibangun dengan biaya sekitar Rp 2,4 triliun.


Setelah peresmian, jalan tol akan digratiskan selama sepekan sebagai masa uji coba bagi masyarakat. Selanjutnya, pemberlakuan tarif resmi akan dimulai pada 1 Oktober. Rinciannya, sepeda motor dikenai Rp 4.000, kendaraan pribadi Rp 10 ribu, kendaraan truk bergardan dua Rp 15 ribu, kendaraan bergardan tiga Rp 20 ribu, kendaraan bergardan empat Rp 25 ribu, dan kendaraan bergardan lima dikenai tarif Rp 30 ribu.


Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan jalan tol itu antara lain untuk mengurangi kemacetan, mendukung fasilitas transportasi dan pariwisata, mempermudah akses yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan, mempermudah akses pusat kegiatan, mempermudah akses ke Bandara Ngurah Rai, mendorong mobilitas barang dan jasa, serta menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah.


Menurut Djoko, tol itu dibangun oleh tenaga kerja Indonesia, teknologi Indonesia, dan pembiayaan dalam negeri. "Bisa untuk kendaraan roda empat dan roda dua dengan jalur terpisah." PUTU HERY | ANTARA 

Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

No comments


A.W.W
Describe a picture below with your own word !!!
at least/minimal fifty words on folio paper.
this assignment must be collected at Thursday, 3 October 2013
your most handsome English teacher;
Mr. Faishol

Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

1 comment


A.W.W
Describe a picture below with your own word !!!
at least/minimal fifty words on folio paper.
this assignment must be collected at Wednesday, 2 October 2013
your most handsome English teacher;
Mr. Faishol

Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

No comments

1.      Teori Behavorisme
Teori belajar Behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran Behaviorisme. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori Behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Menurut teori Behaviorisme belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

2.      Teori Kognitivisme
Teori kognitif berpendapat bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang bersinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, dan menyeluruh. Ibarat sesesorang yang memainkan musik, tidak hanya memahami not-not balok pada partitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai suatu kesatuan yang secara utuh masuk ke dalam pikiran dan perasaannya. Selain itu, dalam psikologi kognitif, manusia melakukan pengamatan secara keseluruhan lebih dahulu, menganalisisnya, lalu mensintesiskannya kembali. Konsep-konsep terpenting dalam teori kognitif selain perkembangan kognitif adalah adaptasi intelektual oleh Jean Piaget, discovery learning oleh Jeron Bruner, dan reception learning oleh Ausubel. (Thobroni, Mustofa. 2011).

3.      Teori Konstruktivisme
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.


REFERENSI

Gage, Berliner, 1984.Educational Psychology. Fourth Edition. USA: houghton Mifflin Company
Thobroni, Mustofa. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Pengembangan Wacana dan Praktik
Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Slavin, Robert E. (2000). Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts:
Allyn & Bacon Publishers.



Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

No comments

Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

No comments

A.W.W
Describe a picture below with your own word !!!
at least/minimal fifty words on folio paper.
this assignment must be collected at tuesday, 1 October 2013
your most handsome English teacher;
Mr. Faishol



Posted on Selasa, September 24, 2013 by Unknown

No comments

Senin, 23 September 2013


KURIKULUM 2013,SIAPKAH KITA?
A.    KONDISI PROBLEMATIKA KURIKULUM 2006 – SEKARANG
1.       Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
2.       Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
3.       Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
4.       Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5.       Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
6.       Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
7.       Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
8.       Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

B.    KESENJANGAN KURIKULUM SAAT INI DENGAN KONSEP IDEAL
NO
KURIKULUM SEKARANG
KURIKULUM IDEAL
1
Konsep Lulusan

-          Belum sepenuhnya menekankan pendidikan karakter
-          Belum menghasilkan Keterampilan sesuai kebutuhan
-          Pengetahuan-pengetahuan lepas
-          Berkarakter mulia
-          Keterampilan yang relevan
-          Pengetahuan-pengetahuan terkait
2
Materi Pembelajaran

-          Belum relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan
-          Beban belajar terlalu berat
-          Terlalu luas, kurang mendalam
-          Relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan
-          Materi esensial
-          Sesuai dengan tingkat perkembangan anak
3
Proses Pembelajaran

-          Berpusat pada guru (teacher centered learning)
-          Sifat pembelajaran yang berorientasi pada buku teks
-          Buku teks hanya memuat materi bahasan
-          Berpusat pada peserta didik (student centered active learning)
-          Sifat pembelajaran yang kontekstual
-          Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan
4
Penilaian

-          Menekankan aspek kognitif
-          Test menjadi cara penilaian yang dominan
-          Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional
-          Penilaian test dan portofolio saling melengkapi
5
Pendidik dan Tenaga Kependidikan

-          Memenuhi kompetensi profesi saja
-          Fokus pada ukuran kinerja PTK
-          Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal
-          Motivasi mengajar
6
Pengelolaan Kurikulum

-          Satuan pendidikan mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum
-          Masih terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah
-          Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran
-          Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan
-          Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah
-          Pemerintah menyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman




C. ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
NO
ALASAN PENGEMBANGAN
1
TANTANGAN MASA DEPAN

a.       Masalah lingkungan hidup
b.      Kemajuan teknologi informasi
c.       Konvergensi ilmu dan teknologi
d.      Ekonomi berbasis pengetahuan
e.      Kebangkitan industri kreatif dan budaya
f.        Pergeseran kekuatan ekonomi dunia
g.       Pengaruh dan imbas teknosains
h.      Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan
2
KOMPETENSI MASA DEPAN

a.       Kemampuan berkomunikasi
b.      Kemampuan berpikir jernih dan kritis
c.       Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan
d.      Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab
e.      Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda
f.        Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
g.       Memiliki minat luas dalam kehidupan
h.      Memiliki kesiapan untuk bekerja
i.         Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya
j.        Memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan
3
FENOMENA NEGATIF

a.       Perkelahian pelajar
b.      Narkoba
c.       Korupsi
d.      Plagiarisme
e.      Kecurangan dalam Ujian
f.        Gejolak masyarakat (social unrest)
4
PERSEPSI MASYARAKAT

a.       Terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif
b.      Beban siswa terlalu berat dan Kurang bermuatan karakter

C.     ELEMEN PERUBAHAN SMP

ELEMEN
DESKRIPSI SMP
Kompetensi Lulusan
Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan
Kedudukan Mata Pelajaran
Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi.
Pendekatan
Kompetensi dikembangkan melalui mata pelajaran
Struktur Kurikulum
•TIK menjadi media semua matapelajaran
•Pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler
•Jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10
•Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran
Proses Pembelajaran
•Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
•Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat
•Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
•Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
•IPA dan IPS masing-masing diajarkan secara terpadu
Penilaian
•Penilaian berbasis kompetensi
•Pergeseran dari penilain melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil]
•Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal)
•Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL
•Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian
Ekstrakurikuler
•Pramuka (wajib)
•OSIS
•UKS
•PMR
•Dll
•Perlunya ekstra kurikuler partisipasi aktif siswa dalam permasalahan kemasyarakatan (menjadi bagian dari pramuka)

Posted on Senin, September 23, 2013 by Unknown

No comments

Pengabdian Guru ......



Posted on Senin, September 23, 2013 by Unknown

No comments

Minggu, 22 September 2013

Posted on Minggu, September 22, 2013 by Unknown

No comments


Pembelajaran Bahasa Indonesia Ilmiah atau Alamiah?

Posted on Minggu, September 22, 2013 by Unknown

1 comment





Cara Membuat Tombol 3 D


Posted on Minggu, September 22, 2013 by Unknown

1 comment